PUKUL 06.35 WIT, tak terdengar suara burung dan populasi lain berkicau di Bumi Hijau Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon. Kampus yang biasanya gaduh dengan aktivitas mahasiswa pun tak terdengar sama sekali. Aktivitas di pagi itu benar-benar senyap dari hiruk pikuk, bahkan matahari yang biasanya memunculkan sinarnya dari upuk timur tak terlihat jelas auranya. Hanya tampak asrinya ilalang dan rimbun pepohonan terbungkus embun nan dingin.

Jika saja pagi itu alam dapat memunculkan totalitas auranya, kiranya saya ingin bercerita tentang suka-duka, kerasnya kehidupan, tentang gempabumi yang datang bertubi-tubi menguncang seantero Maluku, bahkan saya ingin berkisah tentang keburukan manusia menjaganya. Sebagian besar khalayak pecinta alam dan juga manusia tak pernah menghargai alam, meski pun kita tahu banyak sekali makna yang bisa dipetik darinya.

Terlepas dari nestapa itu, saya ingin mengisahkan napak tilas puncak Gunung Binaiya bersama sejumlah mahasiswa dari Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Mereka adalah tamu kami, yang saat itu mendapat tugas pendidikan lanjutan dari organisasinya sebagai pesyaratan menjadi anggota penuh di Mapala SPECTA IAIN Surakarta.

Mahasiswa IAIN Pecinta Alam (MAHIPALA) Ambon, menjadi salah satu organisasi pecinta alam di Maluku, yang diminta untuk menjejaki atau memandu para anggota muda SPECTA IAIN Surakarta itu ke puncak Gunung Binaiya.

Binaiya adalah gunung tertinggi di Provinsi Maluku dan menjadi salah satu dari tujuh puncak (Seven Summit) Indonesia, dengan ketinggian 3.027 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Gunung ini membentang dan masuk ke dalam lingkup Taman Nasional Manusela (TNM), dengan luas mencapai 189.000 hektar, atau sekitar 20 persen wilayah Pulau Seram.

Awal perjalanan kami, dimulai dari Base Camp MAHIPALA, berlokasi di Gedung Olahraga (GOR) Kampus IAIN Ambon. Tepat hari Jumat (1/11/2019), sekira pukul 06.35, kami melangkahkan kaki. Kami terbentuk dalam satu kloter (tim) beranggotakan 10 orang. 8 orang diantaranya dari Mapala SPECTA IAIN Surakarta, sementara dua lainnya saya (Femi Lamasano) dan Rhays Mahu dari MAHIPALA Ambon.

Delapan orang Mapala SPECTA IAIN Surakarta ini terdiri dari empat orang cowok dan empat cewek. Masing-masing, M. Abdur Rockhim, Desi Susanti, Elisa Riski

Inayah, Khori Ila Maisaroh, Yulia Esti Lestari, Aan Rohmad Safrudin, Miftakhul Intifada Arafat, dan Muhammad Bahrudin.

Perjalanan kami dari Base Camp menuju Dermaga Tambatan Ferry Hunimua di Desa Liang, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, menggunakan mobil angkutan umum. Dermaga itu menjadi salah satu akses yang menghubungkan Ambon dengan Masohi (Kota Kabupaten Maluku Tengah).

Tiba di dermaga itu, sekitar pukul 07.30. Namun, di sana kapal ferry yang semestinya dijadwalkan berangkat dari Desa Liang pukul 08.00 ditunda, lantaran terkendala satu dan lain hal. Keberangkatan baru bisa dilakukan pada pukul 13.00. Kami sempat ke ruang tunggu dan menanyakan petugas ihwal keberangkatan, tapi petugas bilang, berangkatnya agak siang.

Katanya berangkat agak siang. Di ruang tunggu itu juga ada banyak penumpang yang sedang menunggu,”

Sebelumnya, kami sedikit dirisaukan karena dua anggota Mapala SPECTA IAIN Surakarta, Desi dan Maisaroh mengalami pusing dan mual saat perjalanan dari Kampus  IAIN menuju dermaga. Kami harus sibuk buka-buka tas, ambil air mineral dan cari obat.

Kadang situasi seperti itu membuat kadar kecerian setiap individu berkurang, pasalnya kondisi tenang dan damai mulai terusik oleh emosi dan penat yang tinggi. Saya melihat suasana tidak senang terpancar dari wajah kawan-kawan lantaran jadwal keberangkatan. Agar rasa itu hilang, kami inisiatif jalan-jalan santai sekaligus bertamsya ringan ke Pantai Liang, yang juga menjadi locus wisata di Provinsi Maluku.

Pasir putih dan laut nan biru, rimbun pepohonan yang masih asri di pandang mata, menawarkan rasa damai kepada saya dan teman-teman. Mata kami benar-benar dimanjakan oleh suasana alam di situ. Ada sebagian dari kita langsung merebahkan badan ke atas butir-butir pasir putih yang bersih dan berkilau, sementara lainnya menikmati kuliner rujak bikinin warga desa setempat.

Empat jam berlalu, rasanya waktu merebahkan badan, makan-makan dan tamasya kecil-kecil selesai. Kapal ferry sudah tiba di dermaga. Suling kapal mulai berbunyi, kami harus segera ke pelabuhan. Saya, Rhays dan Arafat (teman dari SPECTA), lebih awal menuju loket untuk mengurus tiket ihwal keberangkatan. Sementara teman-teman lain nyusul.

Tiket sudah beres, kami semua sudah siap dan beranjak naik ke atas kapal ferry. Penumpang padat sekali, kami harus rela desak-desakkan dan berkeringat menaiki setiap anakan tangga untuk menuju bagian dua lantai kapal. Kami bawa beban berat, tapi itu enteng saja bagi seorang pendaki.

Tiba di lantai dua kapal, semua barang bawaan kami taruh di tempat duduk. Selang beberapa menit, saya ajak teman-teman naik ke anjungan kapal, karena di lantai dua kapal ramai. Penumpang duduk desak-desakan dan tampak gerah. Anjungan kapal mungkin solusi yang baik untuk melepas semua penat.

Pukul 13.19, ABK kapal melepas tali tambat dari tiang tambatan, mesin kapal pun mulai bising. Suling kapal sudah berbunyi pertanda kapal akan keluar dari pelabuhan Hunimua menuju Ina Amarina di Kota Masohi. Bum bum bum, nakoda mulai putar haluan kapal. Kami lantas keluar dari pelabuhan dan mengarungi lautan luas.

Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan berbagai pemandangan menarik nan eksotis. Kami melewati pulau-pulau seperti Pulau Seram, Hatuhaha dan beberapanya lagi. Teman-teman dari Surakarta memuji alam Maluku, konon daerah Seribu Pulau ini memiliki sejuta keindahan, yang tak boleh dilewati begitu saja.

Maluku ini bagus bangat bung,” kata Arafat.

Kami menghabiskan 5 jam perjalanan bersama kapal ferry. Di atas kapal berbagai cerita dan pengalaman kami bagi bersama. Sekitar pukul 18.25 WIT, suling kapal berbunyi, pertanda kami segera berlabu di Pelabuhan Ina Amarina Kota Masohi. Keindahan kota tua ini mulai menampakan auranya di senja itu.

Kami segera turun dari anjungan dan mengambil barang bawaan yang ditaruh di lantai dua kapal. Semua barang bawaan aman, tak ada yang hilang. Kami harus bergerak cepat dan turun dari kapal, karena di pelabuhan itu sudah ada beberapa teman dari Mapala Said Perintah yang menunggu kadatangan kami.

Tak berselang lama menginjakkan kaki di pelabuhan, kami langsung diarahkan naik mobil pick up menuju Sekretariat Mapala Said Perintah (MSP), yang terletak di bagian puncak kawasan Letuaru, Kota Masohi.

Hari mulai malam, tampak beberapa rekan MSP sedang menyiapkan makan malam. Sekitar lima menit merebah ke dinding sekret, acara makan pun berlangsung. Tanpa basa-basi, saya bersama teman-teman langsung menikmati hidangan makan malam yang sudah tersedia di atas daun pisang. Makan beralaskan daun pisang, memang menjadi tradisi di setiap komunitas pecinta alam. Tradisi ini pula yang merekatkan silaturahim di setiap anak pecinta alam.

Usai makan malam, saya duduk sebentar menikmati sebatang rokok, angin sepoi-sepoi mambasuh wajah, gumpalan asap tebal menabrak remang cahaya, semakin menghidupkan dinamika malam itu. Sebenarnya, saya ingin rehat lebih awal, tapi kami harus briefing untuk menyusun schedule perjalanan lebih dulu. Kami briefing dengan kawan-kawan di MSP, karena Hasyim Kaplale, salah satu anggota mereka ikut serta memandu pendakian ke puncak Binaiya. Jadi kami semua berjumlah 11 orang.

Forum berkembang progress, beragam gagasan lahir di situ. Waktu terus berputar, dan briefing melahirkan keputusan, yakni meleburkan tim menjadi dua, yang satu ditugaskan mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) dan satunya lagi mengurus logistik untuk persiapan pendakian.

Esok paginya, tepat Sabtu (2/11/2019), usai serapan saya bersama beberapa teman bergegas menuju Kantor Balai Taman Nasional Manusela (TNM) Maluku Tengah, untuk mengurus Simaksi. Kebetulan, saya dan Rochmad punya kedekatan dengan pegawai di sana, jadi segala urusan kami dipermuda.

Intensitas matahari siang itu panas sekali, tetapi penataan kota yang rapi dan ramah lingkungan menawarkan rasa nyaman. Kota itu sejuk di pandang mata, hampir tidak ditemukan tumpukan sampah berserakah di sana-sini. Yang terkesan sembraut hanyalah tempat parkir mobil, yang masuk areal badan jalan.

Surat ijin perjalanan sudah kelar, siang mulai beransur dan sore mulai tiba. Sementara kami belum makan siang, tapi itu bukan problem berarti. Segeralah kami memfacking (mempak) barang-barang dan logistik untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Huaulu, Kecamatan Seram Utara, Maluku Tengah.

Pukul 17.27, menggunakan mobil pick up, kami meninggalkan Sekretariat MSP menuju Desa Huaulu. Waktu perjalanan ke desa itu sekitar 5 jam lebih. Sepanjang perjalanan, kami melanjutkan kisah dan pengalaman saat di kapal ferry. Kami berkisah tentang dunia pecinta alam dan pendakian.

Di sela-sela itu, senda gurau turut berafiliasi. Salah satu teman kami, biasa disapa Lehor (Rochmad), punya karakter humoris yang hampir mirip dengan artis lawakan Sule. Orangnya kelakar dan suka menghibur. Lehor yang humoris, membuat ngakak dan menjadi penangkal rasa penat.

Perjalanan kami petang itu girang sekali. Selain berbagai cerita lucu, setiap pasang mata kami juga dimanjakan dengan gunung hutan yang hijau nan indah, serta ramainya warga kampung yang lalu-lalang. Banyak tebing-tebing menjulang tinggi.

Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan,”

Melewati beberapa perkampungan, kami pun tak lupa menyempatkan diri membeli lauk yang dijual warga. Perjalanan ke Desa Huaulu memang cukup esktrim. Lima jam perjalanan, tepat pukul 23.22 WIT, kami tiba di desa tersebut. Kami langsung dibawa menuju rumah Kepala Desa Huaulu.

Di sana kami disambut baik oleh Kepala Desa dan istrinya yang berdiri di depan pintu rumah dengan pakaian yang agak modern. Mereka ramah sekali, warga kampung pun juga terlihat beradab. Di kampung itu, nuansa tradisionalnya masih amat kental.

Teman-teman kami dari Surakarta mungkin masih tabuh dengan jamuan makan malam di kampung itu, tetapi sebagai tamu mereka tetap menyesuaikan diri.

Anak pecinta alam wajib menyesuaikan diri pada keadaan sekitar,”

Usai jamuan makan malam, saya bersama Arafat bincang-bincang dengan para petua di kampung itu. Kami duduk di atas sebuah kursi atau para-para (bahasa local), yang dianyam dari bambu. Sementara Rhays dan Kepala Desa duduk di rumah bagian belakang. Konon, Rhays memiliki hubungan darah (pela/gandong) dengan masyarakat Desa Huaulu.

Sebagian teman kami, memilih istirahat lebih awal, mungkin mereka kecapean, setelah melewati perjalanan yang cukup jauh. Tak lama bercerita dengan para petua, kira-kira sekitar pukul 01.32 dini hari, saya dan Arafat pamit untuk merebahkan badan dan tidur, karena besok kami harus melanjutkan perjalanan.

Minggu (3/11/2019), sekira pukul 06.03, kami bangun dan masak untuk persiapan pendakian. Cuaca di Desa Huaulu pagi itu baik sekali. Meski dingin menyelimuti, tapi saya yakin alam merestui perjalanan kami. Sebelum mengangkat kaki dari desa itu, kami menyempatkan diri berpose bersama Kepala Desa. Kami juga berdoa dan meminta ridho kepada Sang Penguasa Jagat.

Berdoa selesai, sesi pamitan ke Kepala Desa dan warga kampung juga sudah. Saatnya saya bersama teman-teman berangkat menuju Desa Roho. Perjalanan mulai kami tempuh, banyak rintangan dan halangan. Kami melewati semak-semak, sungai-sungai panjang dengan kondisi air deras. Paling para dan menguras waktu perjalanan, saat melewati jalanan lumpur. Kami baru tiba di Desa Roho pada pukul 13.30 WIT.

Di Desa Roho, saya dan teman-teman menginap di rumah milik Pak Meki, kerabat salah satu porter yang bertugas menghantar kami ke puncak Gunung Binaiya. Kami lalu rehat sejenak dan menaruh semua barang-barang bawaan. Setelah itu, teman-teman langsung menuju Wae Roho (Sungai) untuk mandi sambil menyebur ke dalam sungai itu.

Kehidupan di Desa Roho masih tradisional. Burung-burung bernyanyi di waktu pagi dan senja. Masyarakatnya masih bergantung pada alam sekitar, dengan cara berburuh untuk mempertahankan kehidupan keluarga. Sebagian hanya berpendidikan sebatas Sekolah Dasar. Mereka juga tidak punya faslitas kesehatan seperti puskesmas pembantu dan lainnya. Tapi mereka punya tatanan adat yang sangat kuat.

Dari sungai, saya dan teman-teman kemudian melakukan aktivitas seperti biasanya. Yang perempuan masak untuk makan malam, suasana kampung itu sangat damai. Makan malam pun siap dan tinggal disajikan di atas meja. Saat makan malam, kami ditemani cerita Mama Orpa, istrinya Pak Meki, tentang dua warga kampung yang tertangkap lantaran terciduk menjual satwa liar ke luar daerah.

Memang di daerah ini paling banyak warga menangkap satwa dan dijual ke luar,”.

Banyak kisah yang kami dengar dari wanita tua itu, rasanya tak ingin melewatinya, namun malam semakin larut, dan kami harus beristirahat untuk melanjutkan perjalanan besok hari ke Camp Wasamata.

Pukul 06.30, ayam mulai berkoko, seperti biasanya kami harus memulai bangun lebih pagi guna menyiapkan berbagai hal perihal perjalanan, termasuk membuat serapan pagi. Perjalanan kami menuju pendakian Gunung Binaiya masih panjang, karena melewati beberapa tempat yang cukup ekstrim.

Menu pagi kami sudah siap dan tinggal disantap. Seperti biasanya, sebelum melanjutkan perjalanan kami harus pamit dari tuan rumah. Singkat kisah, kami mulai melanjutkan tracking. Track menuju Camp Wisamata merupakan paling terjauh, yang kami lihat dalam peta Balai Taman Nasional Manusela.

Kami melewati jalur pacet dan berduri. Sebagian dari kami mulai alami stres medan. Meski melalui rintangan dan medan bahaya, kami pun tiba di Camp Wasamata. Di camp ini banyak tumbuhan daun gatal (Laportea Aestuans).

Dalam literasi (Wikipedia Bahasa Indonesia), Laportea Aestuans merupakan tumbuhan tahunan suku Urticaceae atau Jelatang-jelatangan. Daun ini kemungkinan berasal dari daerah tropis Afrika, namun sekarang tersebar luas sebagai spesies yang diperkenalkan di seluruh belahan bumi barat dan daerah tropis serta subtropis belahan bumi, termasuk Amerika Serikat (California, Florida, Puerto Rico), Amerika Tengah, Hindia Barat, India, Indonesia (Sumatra, Jawa dan Maluku).

Khasiat Laportea Aestuans, sangat efektif karena memiliki senjata berupa rambut atau bulu-bulu kaku (trikoma) yaitu asam format yang dipercayai secara turun temurun jika ditempel pada bagian tubuh yang sakit, pegal, kaku, nyeri akan segera sembuh.

Ketika trikoma dioleskan dalam tubuh, maka asam format akan keluar dari trikoma dengan proses enzimatis. Asam format akan memperlebar pori-pori darah, sehingga darah lancaar mengalir dan mekanisme inilah yang mengurangi rasa nyeri dan capek pada badan atau otot.

Sebagai obat yang ampuh, saya dan teman-teman memetik beberapa helai untuk mengoles ke badan kami yang pegal-pegal lantaran menempu track melelahkan. Di camp ini, kami langsung istirahat. Malam itu saya tidur pulas. Nyanyian merdu jangkrik yang biasa hadir di remang-remang malam pun tak terdengar. Mungkin terlalu lelah, ditambah olesan daun gatal menghangatkan seantero tubuh.

Selasa (5/11/2019), sekira pukul 8:00 WIT, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Kanike. Kami melewati sungai panjang. Dalam perjalanan kami bertemu masyarakar Desa Kanike yang hendak menuju Desa Wahai untuk beraktivitas. Menurut sebagian warga itu, mereka akan melakukan proses berdagang, di Desa Wahai.

Kami melewati berbagai ruas jalan dan hutan yang cukup ekstrim. Kami juga beristirahat di sejumlah tempat sambil menikmati makanan ringan yang kami siapkan sebelum proses perjalanan. Di sepanjang perjalan itu juga, kami bertemu satwa-satwa liar seperti burung nuri, kakatua seram dan lain-lain.

Track menuju Desa Kanike memang sangat ekstrim. Bebatuan yang tajam dan jalanan berlumpur membuat kami kewalahan. Desi, salah satu teman kami, tak mampu melanjutkan perjelanan karena selain medannya yang cukup berat, dia juga memikul beban berat di pundaknya. Akibtanya, harus mencari solusi. Kami rehat beberapa menit, rasanya beban kami semakin bertambah.

Tak ada cara lain, kami harus memandunya. Saya terpaksa memikul kerel dan merangkulnya untuk melanjutkan track. Meski beban berat saya harus melakukannya. Tak jauh berjalan, kami pun tiba di sebuah sungai besar. Kami rehat sejenak, ada yang langsung sholat dan juga merebahkan badan ke pesisir sungai. Jarak dari sungai ke Desa Kanike tak lagi jauh, hanya membutuhkan beberapa menit untuk kami tiba di sana.

Sekitar 20 menit kami rehat dan melakukan aktivitas, perjalanan pun kami lakukan. Beberapa menit berlalu, kami tiba di Desa Kanike. Ada haru mendalam ketika tiba di perkampungan itu. Terlihat anak-anak tidak berpakaian selayaknya, ada juga orang tua lanjut usia yang tampak kurus seperti kurang disentuh pemerintah.

Meski kondisi mereka yang prihatin, tapi kami disambut seperti tamu istimewa. Mereka melempar senyum penuh ramah. Sebagian dari warga situ melalui Pak Porter langsung mengarahkan kami ke rumah Pak Sodri. Rumah Pak Sodri ini biasanya oleh teman-teman pecinta alam disebut sebagai rumah singga komunitas pendaki.

Pak Sondri adalah tokoh masyarakat di Desa Kanike. Laki-laki parubaya itu sudah berdiri di depan rumah menggunakan pakaian adat menyambut kedatangan kami. Ia memakai penutup kepala warnah merah, dan celana pendek yang serba merah. Pak Sodri mempersilahkan kami untuk masuk. “Silahkan duduk,” ajaknya.

Ia membantu kami perihal berbagai informasi, termasuk kondisi masyarakat di desanya,”

Saat berbincang dengan Pak Sodri, ia mengisahkan salah satu pendaki, Pak Fitra namanya, yang meninggal saat mendaki 2017 lalu. Banyak kisah menegangkan kami lewatkan bersama tokoh masyarakat itu.

Seperti biasanya, kata Pak Sodri, setiap pendaki yang hendak mendaki puncak Binaiya, harus melangsungkan ritual adat terlebih dahulu. Pak Sodri lalu memanggil tua adat untuk melangsungkan ritual adat di Baileo kampung Kanike.

Dalam ritual ini, Elisa, rekan kami tidak diizinkan untuk ikut, dia berhalangan seperti umumnya yang dialami kaum perempuan. Elisa hanya bisa menangis lantaran tidak

diikutsertakan dalam ritual adat tersebut. Baileo itu tidak berukuran besar, karena hanya menampung orang-orang tertentu saja. Di dalam upacara itu ada beberapa instrument adat yang digunakan, termasuk siri, pinang, kapur dan berang merah. Singkat cerita, berbagai upacara tersebut kita lewati bersama.

Usai upacara kami harus kembali ke rumah singgah untuk makan malam dan beristirahat guna melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Binaiya. Namun sebelum pendakian, teman-teman dari Surakarta punya beberapa agenda tambahan di desa tersebut, salah satunya memberikan pemahaman pendidikan kepada anak-anak di Yayasan Kristen Maluku.

Kampung ini benar-benar masih jauh dari modern. Alamnya masih perawan, warganya pun masih awam. Mereka benar-benar jauh dari serba-serbi peradaban modern. Pendidikan, kesehatan di kampung ini jauh dari harapan.

Agenda teman-teman Surakarta ini memang sangat menyentuh. Saya terkesan, bahkan tak sadar telah menitikan air mata. Mereka berbagi dengan anak-anak di Desa Kanike, anak-anak itu dirangkul, dipeluk dan bernyanyi sama-sama. Emosi saya hadir seakan sedang menyaksikan sebuah film berkisah humanism.

Selaku anak bangsa, teman-teman begitu memfokuskan perhatian terhadap pendidikan di Tanah Pertiwi ini. Teman-teman sebenarnya masih ingin berbagai dengan anak-anak itu, tapi kami harus melanjutkan perjalanan, karena dikejar oleh schedule perjalanan.

Waktu saya dengan teman-teman di Desa Kanike sudah selesai, kami harus bergegas dan pamit ke warga kampung. Saya melihat ada harus mendalam dari teman-teman Surakarta saat beranjak pergi meninggalkan para lansia dan anak-anak di desa itu.

Apa pun kondisinya, kami harus menyalami Pak Sodri dan warga kampung untuk melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Saat melangkahkan kaki dari kampung itu, perlahan suara muncul seraya mengingatkan hati-hati menyusuri sepanjang jalan. Ada juga yang teriak selamat jalan.

Kami terus berjalan menuju Camp Waenela. Waenela itu merupakan shalter pertama dari Desa Kanike. Semua perbekalan kami sudah siap, termasuk air yang kami isi dalam botol mineral masing-masing. Dalam perjalanan kami kehilangan arah dan langsung nyasar, sesaat saya ingat ucapan warga yang meminta kita untuk berhati-hati.

Kami nyasar selama sehari-semalam. Teman-teman mulai prustasi, kegelisahan muncul dari rauta wajah, bahkan ada yang sampai putus asa. Saya, Rhays bersama Pak Porter yang merupakan kerabat dekat Rhays bersepakat agar diantara kami ada yang turun meminta bantuan warga Desa Kanike, untuk menunjuk arah menuju puncak Binaiya.

Tidak berbuntut panjang, Rhays bersama Pak Porter langsung ke Kanike, sedangkan saya dan teman-teman lain menuggu di jalan perburuan. Selang beberapa jam, Rhays menghubungi kami menggunakan handy talky (HT), bahwa mereka sudah mendapatkan porter. Mendengar informasi tersebut, saya dan teman-teman lalu bergegas turun menuju Rhays dan Pak Porter untuk melanjutkan perjalanan.

Menuju Camp Waensela terbilang sulit, karena tiga tahun belakangan ini tidak ada pendaki yang melewati jalur itu. Dengan kerja keras dan sedikit pengetahuan survivel, akhirnya pada pukul 17.15, kami tiba di camp tersebut.

Di sana, kami membagi-bagi tugas. Ada yang membuat tenda, ada yang masak. Sementara saya sendiri ditugaskan membuat api. Hari sudah menunjukan malam, semua aktivitas termasuk makan malam sudah kelar. Kami lalu makan bersama dan tidur tanpa menghabiskan waktu. Kami harus tidur lebih awal, supaya menyiapkan energi untuk besok pagi, perjalanan kami cukup berliku dan masih melewati berbagai rintangan.

Dari camp ini, kami akan melanjutkan perjalanan lagi ke Camp Waehuhu. Ke Waehuhu, memakan waktu kira-kira enam jam lebih. Paginya di hari ke delapan, kami terus melangkahkan kaki. Saya lihat teman-teman masih kuat dan bersemangat. Kami punya 4 orang rekan perempuan yang semangat dan optimisnya sangat luar biasa.

Enam jam sudah perjalanan kami menuju Waehuhu. Waehuhu menjadi pos terakhir untuk menuju puncak Gunung Binaiya. Seperti biasanya, kalau ditempat peristirahatan, kami selalu menyiapkan berbagai kebutuhan seperti makan, sholat dan lainnya.

 Mendaki

Di pos terakhir ini, kami mesti benar-benar siap dan menyiapkan berbagai hal perihal pendakian. Tepat 9 November 2019, pukul 09.12 WIT, saya dan teman-teman mulai memfacking barang bawaan, kami juga menyarungkan semua perlengkapan pendakian ke badan masing-masing. Tas kerel dan bodypack berukuran variasi mulai kita tandukan di bahu. Seperti biasanya, sebelum menempuh perjalanan kami harus berdoa lebih awal.

Kami selalu berdoa, agar perjalanan yang dilakukan mendapat ridho dan dimudakan,”

Ada rasa takut diantara kami. Rasa itu muncul ketika teringat kisah Fitra yang meninggal saat pendakian 2017 lalu. Meski begitu, dalam pendakian menuju puncak gunung kami tidak mengalami hal-hal aneh dan berbau mistis. Untuk tiba di lokasi atau tempat meninggalnya Fitra, kira-kira dibutuhkan dua jam perjalanan.

Kami terus beranjak naik, sambil mencuri-curi waktu istirahat. Di pendakian menuju plakat jalan 500 meter, kami benar-benar berhadapan dengan track miring, diperkirakan sekitar 80 derajat. Track itu sangat mengganggu psikologi saya dan teman-teman. Bahkan ada yang mulai mengalami phobia ketinggian.

Hal-hal seperti ini biasa terjadi. Jika emosi dan mental tidak dikontrol, kita akan alami prustasi,”.

Kami melewati berbagai rintangan, namun dengan semangat dan kebersamaan, akhirnya mampu menaklukan setiap emosi yang datang. Kami tiba dengan selamat di Waefuku. Waefuku merupakan camp yang barada di 200 meter menuju puncak.

Di Waefuku kami jedah untuk makan siang. Usai makan, kami siap-siap lagi menuju puncak Gunung Binaiya. Perjalanan yang menguras energy dan emosi itu akhirnya terjawab sudah. Tak lama berjalan, akhirnya kami tiba di puncak Binaiya. Kami semua dalam kondisi baik-baik.

Tiba di sana, saya dan teman-teman langsung sujud syukur, berucap terima kasih kepada Tuhan, karena sampai di puncak gunung dengan selamat,”

Semua rasa sakit, lela dan emosi terjawab. Di atas puncak gunung itu berbagai keindahan tampak. Kami melihat awan-awan berserakah dengan kecepatannya. Tak mau melewati keindahan di sekitar puncak Binaiya, kami pun mulai mengabadikan berbagai momentum di sana.

Dokumentasi Puncak Binaiya

Saya dan teman-teman menghabiskan banyak waktu di puncak Binaiya, karena di situ menjadi klimas dari perjuangan pendakian kami. Setelah lama menghabiskan waktu di situ, kami kembali melanjutkan perjalanan. 9 hari sudah perjalanan kami menuju puncak Binaiya.

Sempat terlintas dibenak, tentang bagaimana teman-teman berpikir untuk balik ke Ambon. Sementara, jalan menuju puncak saja melalui berbagai rintangan,”.

Mulai bergegas dan melanjutkan perjalanan ke Camp Isilali. Kami melewati beberapa bukit-bukit yang lumayan tinggi dan terjal. Kami juga melewati puncak Bintang dengan track yang sangat berbahaya. Banyak jurang, kabut tebal dan bebatuan tajam, yang membuat kami harus berhati-hati. Di puncak Bintang, kami rehat sejanak dan melemaskan otot-otot untuk bisa sampai ke Camp Isilali.

 

Kami pun sampai ke camp itu. di sana, kami bertemu dan saling sapa dengan para pendaki dari manca Negara. Stok rokok kami sudah habis, lalu beberapa teman yang pintar berbahasa inggris mengajak bicara dengan para pendaki asing itu.

Sebenarnya itu hanya modus untuk meminta rokok, karena kami sudah kehabisan stok rokok selama tiga hari perjalanan,”

Kami rehat semalaman di camp itu. Kami tidur di salah satu tempat yang disiapkan pihak balai. Lantaran sudah penuh, saya dan salah satu teman tidak dapat tempat tidur, kami menyusup dan gabung bersama para turis.

Pukul 08,00, melanjutkan perjalanan ke Camp Aimoto. Kami melewati puncak Manukupa dan Hutan Lumut. Dalam perjalanan hujan besar dan kabut menyelimuti. Rutenya sangat licin dan berlumpur. Hujan terus mengguyur diikuti bunyi petir yang dasyat. Kami sedikit panik, takut pohon-pohon tumbang.

Kami terus berjalan melewati rimbunnya pepohonan, hujan mulai redah. Tak lama berjalan, tepat pukul 16.32, kami tiba di Camp Aimoto. Semua barang bawaan ditaruh, saya dan salah satu teman turun ke sungai untuk mengambil air. Kami basa kuyup, ada yang mengalami lecet dan terluka. Kami juga kedinginan jadi harus membuat api untuk menghangatkan tubuh.

Elisa, kesakitan saat membuka sepatunya. Kakinya terluka akibat pengalas (kaos kaki). Dia menangis, saya dan Lehor lalu membantunya untuk membuka sepatunya,”

Sudah masuk hari ke sepuluh kami mengarungi alam terbuka. Dari Aimato, kami akan tempuh lagi perjalanan ke Desa Piliana. Desa ini berada pada bagian Selatan. Sebelumnya kami memilih jalur Utara dan sesuai schedule, kami akan turun melewati jalur Selatan.

Kami keluar dari Aimato sekira pukul 09.00. Saya dan teman-teman mulai kehabisan tenaga saat menuju Piliana. Kami juga kehabisan stok makanan. Di tengah perjalanan, saya bersama Rhays memutuskan agar kita berdua yang lebih duluan sampai di desa itu untuk mencari logistik.

Sampai di Piliana kami membeli makan, dan kembali lagi menjemput teman-teman. Kami tiba di desa itu pada pukul 15.41. Untuk melepas lelah, kami ke sungai Nini Fala atau dikenal dengan Air Jodoh. Kami mandi dan foto-foto di sana,”

Kami kemudian, kembali dan langsung ke Rumah Kepala Desa Piliana, mereka sudah menyiapkan snack sore. Tak lama bincang-bincang dan berbagi pengalaman dengan Kepala Desa, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke tempat tinggal saya di Desa Tehoru.

Kami menggunakan mobil menuju Desa Tehoru dan tiba sekira pukul 23.00 WIT. Kami makan malam dan istirahat di rumah saya. Teman-teman sudah mulai riang, karena tak ada lagi gunung, terjal dan jalur ekstrim,”

Kami menghabiskan waktu yang lama di Tehoru. Sesuai kesepakatan, kami akan berangkat ke Kota Masohi pada pukul 15.00. Waktu luang itu kami gunakan untuk mencuci pakaian dan jalan-jalan keliling Tehoru.

Kami juga menyempatkan diri untuk makan kelapa muda di dusun kelapa. Teman saya di kampung juga membeli rokok dan snack,”

Sudah pukul 14.20, rasanya kami harus facking barang. Semua sudah lengkap dan tinggal menunggu mobil untuk berangkat ke Masohi. Kami juga tak lupa untuk pamitan ke Ibu dan Bapak saya. Sepanjang perjalanan, kami ditemani oleh cerita lucu si Lehor.

Selama dua jam perjalanan dan kami tiba di Sekret Mapala Said Perintah. Kami tidur dan menginap di sana. Namun, kami harus lebih awal menyempatkan diri ke Balai Taman Nasional Manusela untuk meminta data terkait flora dan fauna.

Di balai itu kami bertemu sejumlah WNA yang sedang persiapan untuk presentasi ihawal penelitian mereka di Gunung Binaiya. Usai ambil data, kami kembali ke Sekret MSP,”

Kami menikmati udara kota malam itu. Kota Masohi memang sejuk di pandang mata. Kami menikmati beberapa batang rokok ditemani kopi kental manis. Seperti istilah „rokok tanpa kopi rasanya tak sempurna‟. Saya dan beberapa teman sudah harus rehat. Kami pun tidur.

Pukul 11.00, kami pamit dari teman-teman MSP dan menuju pelabuhan ferry menggunakan mobil pick up. Di pelabuhan, saya dan salah satu teman mengurus tiket keberangkatan ke Ambon. Semua sudah siap dan kami naik ke atas kapal ferry. Punumpang kapal juga padat, seperti hari keberangkatan ke Masohi.

Pom pom pom, suling kapal mulai bunyi, ABK mulai angkat tali tambat. Tepat pukul 12.41, kapal ferry meninggalkan Kota Masohi. Sebagian teman memilih tidur, sementara saya dan sebagiannya tetap naik ke tempat semula, di bagian anjungan.

Kami tiba di Pelabuhan Hunimua tepat pukul 5.32 WIT. Di pelabuhan itu sudah ada senior kami yang datang untuk menjemput. Akhirnya, kami tiba dengan selamat di kampus IAIN Ambon, tepatnya di Base Camp Mahipala Ambon sekira pukul 20.09. (Rekamjejak)

Mahipala Gooo………………..

Buka Chat
1
Mahipala Ambon
Hai sahabat pecinta Alam..! Ada yang bisa kami bantu?